Beranda Indeks Product Pencetakan 3D merevolusi operasi transplantasi

Pencetakan 3D merevolusi operasi transplantasi

Teknologi ini memungkinkan ahli bedah untuk 'berlatih' pada replika skala akurat organ-organ, sebelum operasi yang sebenarnya.

Replika organ tubuh membantu dokter bedah untuk melakukan latihan sebelum melakukan operasi pembedahan (Sky.com)

Operasi transplantasi di Inggris dapat segera berubah berkat pencetakan 3D yang membantu dokter mempraktekkan operasi sebelum melakukan operasi sesungguhnya dan menemukan masalah apa pun itu, sebelum terjadi.

Setiap mesin pencetakan 3D berharga £250.000 tetapi para ahli bedah mengatakan alat itu dapat menghemat waktu yang mahal dalam melakukan operasi terhadap pasien dan pada akhirnya membantu mempercepat pemulihan pasien.

“Ini adalah penggunaan teknologi pencetakan 3D yang sangat pintar karena memungkinkan kita untuk secara efektif membuat replika ukuran skala organ yang ditransplantasikan dan perut yang akan dioperasi,” kata konsultan ahli bedah transplantasi, Nicos Kessaris, kepada Sky News.

“Dalam sejumlah kecil kasus ada kerumitan, entah itu dengan ukuran organ yang ditransplantasikan atau dengan pembuluh darah, jadi jika ada kerumitan, ini memungkinkan kita untuk mempraktekkan operasi lebih dulu.”

Dexter Clark yang berusia tiga tahun dari Reading adalah salah satu pasien pertama yang mendapat manfaat dari pencetakan 3D organ tubuh, setelah ayahnya Brendan menyumbangkan salah satu ginjalnya, yang ternyata lebih besar dari rata-rata.

“Sungguh menakjubkan bahwa mereka mampu melakukan ini,” kata ibu Dexter, Emily. “Jika mereka tidak bisa melakukan operasi, Dexter harus menjalani dialisis dan menunggu sampai dia bertambah besar.”

Pekerjaan pencetakan 3D untuk organ tubuh, sedang dirintis di London oleh Guy’s and St Thomas’ NHS Foundation Trust dan akhirnya diharapkan bisa diluncurkan secara nasional.

“Jika kita dapat mengambil satu atau dua jam dari setiap prosedur operasi, itu berarti penghematan serius dalam hal waktu pelaksanaan operasi,” kata Phil Reeves dari Stratasys, perusahaan di balik teknologi pencetakan 3D.

“Ini juga akan sangat bermanfaat bagi pasien dalam hal pemulihan mereka, jadi ada argumen ekonomi besar di sana untuk layanan kesehatan dan penggunaan pencetakan 3D.”

Percetakan 3D adalah proses di mana materi digabung di bawah kontrol komputer untuk membuat objek tiga dimensi, dengan material yang ditambahkan bersama-sama (seperti molekul cair atau butiran bubuk yang digabungkan bersama). Pencetakan 3D digunakan dalam pembuatan prototipe. Objek dapat berupa bentuk atau geometri dan biasanya dihasilkan menggunakan data model digital dari model 3D yang berasal File Manufaktur Aditif (AMF).

Ada beberapa teknik yang digunakan dalam pencetakan 3D, seperti stereolithography (STL) atau fused deposit modeling (FDM). pencetakan 3D membangun suatu objek tiga dimensi dari model CAD atau file AMF yang dibantu komputer, biasanya dengan menambahkan lapisan bahan lapis demi lapis secara berturut-turut.

Awalnya material yang bisa dibentuk baru sebatas plastik. Kini, Peneliti telah dapat membuat material stainless steel dengan printer 3D. Stainless steel dibuat dengan cara mencampurkan material besi, carbon dan nickel secara simultan dalam Printer 3D

Berita ini diambil dari Sky.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here