Beranda Indeks Digital Baidu Ancam “Bunuh” Google Jika Kembali ke Tiongkok

Baidu Ancam “Bunuh” Google Jika Kembali ke Tiongkok

Robin Li (CEO Baidu)

Jakarta, Itech – Perusahaan raksasa mesin pencari Google tidak akan menyerah untuk bisa beroperasi di pasar Tiongkok, mengingat Tiongkok memiliki populasi penduduk terbesar di dunia dan pasar smartphone nomor satu di dunia.

Bahkan, Google rela membuat mesin pencari khusus Tiongkok beserta layanan cloud-nya.

Sontak, kabar itu pun sampai ke telinga Robin Li (CEO Baidu), mengingat Baidu adalah mesin pencari terbesar di Tiongkok. Google dan Baidu adalah sama-sama pemain yang bergerak di bidang mesin pencarian, internet, layanan cloud, dan pengembangan kecerdasan buatan (AI, Artificial Intelligence) untuk produk-produknya.

Dalam akun resmi WeChat-nya, Li mengancam akan mengusir Google jika mereka berani kembali ke Tiongkok.”Google memutuskan kembali ke Tiongkok, kami dengan sangat percaya diri akan melakukan ‘PK’ dan akan menang lagi,” tulisnya seperti dilansir The Verge.

Inisial PK merupakan kepanjangan dari istilah “Player Kill” yang merupakan bahasa slang Tiongkok dalam game MOBA yang berarti “membunuh” pemain lain.

Li juga mengatakan Baidu telah tumbuh lebih besar sejak Google meninggalkan Tiongkok pada 2010. “Kami telah memimpin negeri ini dan faktanya seluruh dunia menyontek apa yang telah kami lakukan,” pungkasnya.

Dragonfly

Google menyiapkan sebuah mesin pencari khusus yang telah dibuat sedemikian rupa dengan mengikuti regulasi sensor pemerintah Tiongkok. Proyek bernama Dragonfly itu sudah dimulai sejak 2017 lalu. Mesin pencari ini nantinya akan memblokir kata kunci yang sensitif seperti demokrasi, hak asasi manusia, aksi damai dan agama.

Proyek itu diperkirakan akan selesai dan tersedia di Tiongkok dalam beberapa bulan ke depan, paling lambat akan hadir sekitar awal 2019. Google pun sedang membuat serangkaian aplikasi dan telah merangkul pengembang lokal agar dapat bertahan di daratan Tiongkok.

Kabar rencana masuknya Google di China ini ternyata malah mendapat banyak hujatan, bahkan dari karyawan Google sendiri karena cara Google yang tunduk pada aturan Tionkok dengan memberlakukan sensor pada kata kunci yang dianggap sensitif.

Padahal selama ini, Google dikenal sebagai salah satu perusahaan yang menjunjung tinggi kebebasan informasi, demokrasi dan hak asasi manusia seperti dikutip Bloomberg.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here