peningkatan penjualan soft-drink didorong oleh teknologi manajemen rak
peningkatan penjualan soft-drink didorong oleh teknologi manajemen rak (wikipedia)

Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa dan bagaimana produk yang Anda lihat di rak supermarket menempati posisinya, dan bagaimana pengecer mengelola tingkat persediaan mereka? Ini adalah ilmu manajemen rak dan teknologi memainkan bagian yang semakin penting di dalamnya.

Setelah Piala Dunia FIFA tahun ini di Rusia, Coca-Cola Hellenic Bottling Company (CCH), mitra pembotolan utama untuk merek minuman global, melaporkan lompatan 6,4% dalam pendapatannya untuk paruh pertama tahun 2018.

Faktor-faktor kompetisi sepak bola, cuaca hangat dan peluncuran produk baru membantu meningkatkan penjualan mereka, kata perusahaan itu, tetapi teknologi baru juga membantu, dalam bentuk pengenalan citra yang canggih dan analitik data.

CCH menerapkan sistem baru yang dioperasikan oleh perusahaan teknologi Trax yang mendigitalkan proses pengelolaan stok yang sebelumnya dilakukan secara manual.

Ketika Anda memiliki 200.000 pelanggan ritel di sebuah negara yang sangat luas seperti Rusia, mengandalkan catatan menggunakan pena dan kertas yang kemudian harus dimasukkan ke komputer adalah kegiatan yang tidak ideal. Hal itu dapat menyebabkan penundaan dalam pengisian rak kosong, hal yang tidak baik untuk bisnis.

Kehabisan stok barang telah mengakibatkan timbulnya biaya bagi peritel yaitu lebih dari US$ 634 milyar (£ 494 milyar) per tahun akibat penjualan yang hilang, menurut laporan oleh analis ritel IHL Group.

Dan dengan Piala Dunia saat musim panas yang telah menarik 4,5 juta pengunjung, maka “sangat penting bagi kami untuk mendapatkan stok yang tepat,” kata Aleksandr Makarov, manajer proyek CCH Rusia kepada BBC.com.

Dengan menerapkan sistem Trax,  kami berhasil mengurangi 63% kejadian “out-of-stock” dan waktu audit yang turun dari 20 menit menjadi 2 menit saja, kata Makarov.

“Kami mencapai 99,5% tingkat ketersediaan produk di toko-toko tiga jam sebelum pertandingan sepak bola saat Piala Dunia dimulai.”

Jadi bagaimana tepatnya CCH mencapai ini?

Menggunakan kamera yang terpasang di rak dan augmented reality pada smartphone dan tablet, sistem pengenalan gambar Trax memonitor semua produk yang ada di rak terbuka dan dalam mesin pendingin, memahami bagaimana mereka berbeda dalam ukuran, bentuk dan warnanya.

kamera yang terpasang di rak dan augmented reality pada smartphone dan tablet, sistem pengenalan gambar Trax memonitor semua produk
kamera yang terpasang di rak dan augmented reality pada smartphone dan tablet, sistem pengenalan gambar Trax memonitor semua produk yang ada di rak terbuka dan dalam mesin pendingin

Sebuah “mesin yang menjahit pemandangan luas ” mengumpulkan bersama-sama semua produk di dalam toko yang dibentuk ulang jadi gambar sebuah rak penuh, sementara perangkat lunak analitik mengenali setiap produk tersebut. Pengelola supermarket segera diberitahu jika ada merek yang tidak ada di tempatnya atau hilang dari rak.

Tapi, seperti yang diungkapkan oleh kepala eksekutif Trax, Joel Bar-El, “banyak produk terlihat sama tetapi dalam ukuran yang berbeda, seperti minuman bersoda, misalnya. Jadi kami telah membuat lapisan tambahan, memahami tata letak fisik toko dan melihat harga untuk membantu kami menghasilkan ukuran produk yang tepat. ”

Trax telah mengidentifikasi 250 juta jenis produk per bulan dan menyediakan data real-time kepada 170 pengecer dan produsen merek di seluruh dunia, kata Bar-El.

perangkat lunak analitik mengenali setiap produk tersebut. Pengelola supermarket segera diberitahu jika ada merek yang tidak ada di tempatnya atau hilang dari rak.
perangkat lunak analitik mengenali setiap produk tersebut. Pengelola supermarket segera diberitahu jika ada merek yang tidak ada di tempatnya atau hilang dari rak.

Karena pengecer dengan toko fisik menghadapi tantangan perdagangan online yang terus meningkat, sejumlah perusahaan teknologi seperti  Planorama, TransVoyant, dan MetaMind bermunculan menawarkan manajemen stok digital dan layanan analitik data kepada pengecer.

Ilmu Pengelolaan Rak

Supermarket telah merancang planograms – bagan organisasi – di mana puluhan ribu merek mereka harus disimpan di rak atau lemari es dan freezer. Ini membantu pekerja toko meletakkan barang di tempat yang tepat, karena ketika bicara tentang  ritel kelontong, maka letak barang yag dijual atau merek jadi penting.

Secara umum, produk premium masuk ke rak teratas, barang lebih murah di rak bawah, meninggalkan rak tengah untuk produk kelas menengah yang biasanya paling laris.

Menurut organisasi konsumen, Which?,  ada “efek sandwich ” yang membuat item rak tengah yang menguntungkan tampak lebih menarik. Kemasan yang cerdik dapat secara halus menunjukkan bahwa merek yang lebih murah, jika ditempatkan di dekat merek premium, maka akan memperoleh hasil yang sama baiknya.

Merek membayar mahal untuk hak menempati posisi rak terbaik, jadi mereka ingin memastikan pengecer melakukan apa yang mereka janjikan. Kadang-kadang pengecer tidak memenuhi janjinya, apakah karena kesalahan manusia atau perencanaan yang buruk. Jadi pemantauan real-time membantu mengatasi hal ini.

Dan mereka juga ingin memastikan bahwa persediaan produk mereka cukup banyak sehingga tidak ada celah yang kosong menganga di rak untuk waktu yang lama.

“Pengecer sering mengalami kehabisan stok sekitar 8% hingga 12% dari waktu saat ini,” kata Bar-El, “tetapi menggunakan sistem kami, dapat mengurangi itu hingga 3% atau 4%.”

“Kami memperingatkan mereka dengan segera. Biasanya butuh tiga hingga empat jam untuk mengisi rak hari ini, tetapi kami telah dapat mengurangi itu hanya jadi 20 menit dalam banyak kasus,” klaimnya.

Toby Pickard, kepala wawasan untuk inovasi dan berjangka di analis ritel IGD, mengatakan menggunakan teknologi untuk memastikan manajemen stok real-time menjadi penting bagi perusahaan.

“Karena pengecer semakin saling mencocokkan harga dan jangkauannya, maka layanan dalam toko yang sangat baik dan ketersediaan produk akan menjadi lebih penting dalam hal memungkinkan pengecer untuk berdiri keluar dari kerumunan dan mendorong langkah kaki pembeli datang ke toko mereka,” katanya.

Tapi, seperti Patrick O’Brien, direktur riset ritel Inggris di GlobalData, tunjukkan, “ini bukan ilmu roket”.

“Teknologi dan staf toko yang ada harus dapat mempertahankan stok rak, jadi pada akhirnya mereka harus membuktikan, apakah mereka sebagai penyedia layanan benar-benar dapat membuktikan laba atas investasi yang dilakukan pengecer,” katanya.

Analisis data juga mengungkap apa yang sebenarnya terjadi. Dan beberapa temuannya mengejutkan.

Misalnya, salah satu pembuat makanan hewan berasumsi bahwa produknya diposisikan di sebelah pesaing utamanya adalah tidak akan bagus untuk penjualan. Tapi memang itulah yang terbukti. Mengapa hal itu dapat terjadi?

“Kami tidak terganggu dengan keharusan untuk menjelaskan mengapa itu terjadi, kami hanya mengikuti data,” kata Mr Bar-El. “Penyebabnya bisa mengenai warna, psikologi otak, tapi kami tidak tahu. Kesimpulan kami berdasarkan bukti.”

Belanja grosir online berkembang pesat, dengan IGD meramalkan pertumbuhan penjualan sebesar 48% di Inggris pada tahun 2022, pertumbuhan 286% di China, dan pertumbuhan 129% di AS selama periode yang sama.

Baca juga: JD.ID Hadirkan “Toko Pintar” Pertama di Asia Tenggara

Bukankah ini akan menjadi ancaman bagi penyedia teknologi di dalam toko?

“Tidak ada pertanyaan tentang belanja online yang akan terus tumbuh dan tidak diragukan lagi akan menjadi fokus utama baik pengecer dan merek,” kata Bar-El.

“Tapi adanya peningkatan dalam penjualan online ini masih jauh dari mengakibatkan berakhirnya toko-toko fisik. Belanja online menghadirkan pemahaman yang jauh lebih besar tentang perilaku pelanggan … jumlah data dan wawasan yang dapat dihasilkan akan membantu meningkatkan pengalaman pelanggan, penjualan dan pemahaman keseluruhan dari setiap aspek bisnis.”

Dia membayangkan dunia hibrida – perpaduan antara toko online dan fisik, sebagaimana dibuktikan oleh Amazon Go, toko fisik milik Amazon dan “konsep baru” ritel dari konsep Alibaba, yang bertujuan untuk menggabungkan kenyamanan pemesanan online dan pengiriman ke rumah dengan kesenangan berbelanja dalam toko fisik dan kegiatan makan.

Ratu Elizabeth berkunjung ke sebuah supermarket di Inggris (Vanity Fair)
Ratu Elizabeth berkunjung ke sebuah supermarket di Inggris (Vanity Fair)

“Masa depan ritel adalah semua tentang data, dan perusahaan masa depan adalah orang-orang yang belajar menggunakannya di semua platform – baik digital maupun fisik,” ia menyimpulkan.

Jadi pada saat Anda dengan santai mengambil minuman bersoda dari rak supermarket, pikirkan ilmu yang ada di balik keputusan Anda.

Sumber: BBC.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here