Beranda Indeks Business Solution Trik menghasilkan lebih banyak kakao untuk petani

Trik menghasilkan lebih banyak kakao untuk petani

https://www.itech.id/wp-content/uploads/2018/07/Logistik-Tani.jpg
Illustrasi: Aplikasi digital untuk pertanian

Teknologi digital membantu mengubah kehidupan dan keuntungan para petani. Dari aplikasi hingga teknologi blockchain, para petani kini menemukan cara baru dalam berbisnis.

Contohnya, Muhammed Adam, seorang petani kakao dari Sefwi Madina di Ghana bagian barat yang terpencil, yang telah menanam kakao dengan cara yang sama selama 25 tahun.

Selama beberapa tahun terakhir, Olam Farmer Information System (OFIS) atau Sistem Informasi Petani Olam yang dijalankan oleh perusahaan raksasa komoditas Olam, telah membantunya menghasilkan kakao lebih dari tiga kali lipat dan mengurangi ketergantungan pada pestisida.

“Sebelum saya mendapat rencana pengembangan pertanian yang diberikan OFIS, saya hanya memanen tujuh kantong cokelat,” kata Adams. “Tapi tahun lalu saya berhasil memanen 25 kantong coklat berkat perubahan yang saya buat.”

Teknologi Olam memberikannya kesempatan kontak langsung dengan para penasihat. Ketika, misalnya, tanaman kakaonya mengalami wabah penyakit, Adam jadi paham bahwa menggunakan bahan kimia bukanlah satu-satunya jawaban.

“Pelatihan yang saya terima menunjukkan bahwa saya tidak perlu menyemprotkan tanaman kakao saya begitu banyak pestisida, hal itu menghemat banyak uang dan membantu saya menanam lebih banyak cokelat,” katanya.

“Teknologi ini benar-benar membantu membawa dunia lebih dekat kepada saya.”

Peritiwa yang dialami Adam adalah kisah yang menggembirakan, mengingat prediksi World Economic Forum bahwa produksi pangan harus meningkat 50-100% pada tahun 2050 untuk mengimbangi pertumbuhan populasi.

Aplikasi kini banyak digunakan untuk pertanian

Tetapi dengan pertanian dalam krisis di banyak bagian dunia, dapatkah teknologi benar-benar membantu sektor pertanian memenuhi target yang besar itu?

Simon Brayn-Smith, kepala keberlanjutan kakao di Olam, juga berpikir demikian: “Kami benar-benar fokus pada inisiatif digital selama 18 bulan terakhir.”

Aplikasi OFIS mengumpulkan data pertanian, dan menggunakan algoritma untuk membuat rekomendasi yang dipersonalisasi kepada petani tentang cara meningkatkan hasil panen mereka.

Aplikasi Olam memungkinkan produk untuk dilacak ketika meninggalkan pertanian, dan petani dapat memeriksa harga kakao dan berdagang secara online, mendapat harga yang lebih baik untuk tanaman mereka.

Brayn-Smith mengatakan: “Olam Traceability adalah aplikasi pembayaran digital, sehingga kita dapat membayar petani langsung ke mobile money wallet mereka.

Olam Direct, yang saat ini sedang diujicobakan di Indonesia, memungkinkan kami untuk menawarkan harga harian yang jauh lebih baik kepada petani di mana mereka dapat menjual, katakanlah, 50kg kakao kepada kami langsung.”

Namun masih ada jalan panjang sebelum petani kecil memperoleh semua manfaat ekonomi digital.

Sebagian besar aplikasi Olam dapat dijalankan menggunakan perpesanan teks alias sms. Tapi “cakupan internet masih menjadi tantangan di beberapa bagian dunia, seperti halnya juga dengan infrastruktur lokal, agar petani dapat menjual hasil panen secara digital,” kata Brayn-Smith.

Manfaat Blockchain

Bagi petani di negara berkembang, mendapatkan harga yang lebih baik bukanlah satu-satunya manfaat dari terhubungnya mereka ke ekonomi digital.

Dibayar secara digital juga memberikan kesempatan bagi para petani kecil untuk menggunakan layanan perbankan seperti rekening tabungan dan pinjaman mikro untuk pertama kalinya.

Tapi blockchain segera terbukti sebagai senjata yang lebih kuat dalam perang melawan eksklusi dan eksploitasi keuangan, berkat kemampuannya untuk menyediakan data penjualan dan penetapan harga yang dapat diverifikasi kepada bank-bank yang diperlukan untuk membuat keputusan pemberian pinjaman.

Di Rusia, petani di Kolionovo, sebuah kota dekat Moskow, sudah menggunakan teknologi blockchain.

https://www.itech.id/wp-content/uploads/2018/05/blockchain_20171212_175451.jpg
Teknologi blockchain digunakan di pertanian

Di bawah kepemimpinan bankir lokal yang beralih menjadi petani Mikhail Shlyapnikov, mereka telah menggunakan cryptocurrency yang disebut kolion, yang diperoleh dengan membantu penduduk dengan pekerjaan pertanian atau konstruksi.

Shlyapnikov mulai menerbitkan kolion dalam bentuk kertas pada tahun 2014 sebagai sarana untuk menghindari bunga 12% yang dibebankan oleh bank-bank yang memberikan pinjaman.

Ketika pengadilan Rusia melarang penggunaan kolion kertas pada tahun 2015, ia mulai membuat versi cryptocurrency-nya, dan telah meraih US$ 500.000 dalam penawaran perdana koin tersebut pada April 2017.

Hari ini, ada sekitar US$ 2 juta (senilai £ 2,2 m) kolion yang beredar, didukung oleh cadangan 500 bitcoin (senilai sekitar £ 2,4 juta pada harga saat ini).

Namun, bagi sebagian besar petani mendapat manfaat penuh dari blockchain masih membutuhkan waktu.

Harga yang adil

Christian Ferri, kepala eksekutif BlockStar, penasihat investasi blockchain, mengatakan: “Ada kemungkinan yang tak terbatas, tapi teknologi yang dibutuhkan mungkin berada di luar jangkauan beberapa petani.

“Kabar baiknya adalah saya yakin kita akan melihat biaya teknologi ini menurun seiring penyebaran adopsinya.”

Petani di negara berkembang bukan satu-satunya yang berjuang untuk memenuhi kebutuhan.

Departemen Pertanian AS memperkirakan pendapatan pertanian bersih akan turun 8,3% pada tahun 2018. Dan di Inggris, para petani telah lama mengeluhkan tentang supermarket yang menekan pendapatan mereka.

Rowie Meers, yang mengelola Purton House Organics, di Swindon, Inggris barat daya, mengatakan: “Supermarket terus menurunkan harga, menyebabkan banyak pertanian kecil keluar dari bisnis.”

Tapi inovasi teknologi juga dapat membantu petani di negara maju untuk mendapatkan kesepakatan yang lebih baik.

Meers menggunakan Farmdrop, aplikasi pengiriman makanan yang menggunakan teknologi seluler untuk menghubungkan petani langsung dengan konsumen. Produsen bisa mendapatkan 70% dari harga eceran, kira-kira dua kali lipat dari bagian yang mereka dapat dari supermarket.

Pendiri Farmdrop, Ben Pugh mengatakan: “Aplikasi ini mengirim pesanan pelanggan secara real-time kepada 300 produsen, yang memberi tahu kami apa yang mereka miliki dan berapa jumlahnya.

“Daftar panen harian kemudian dikirim saat tengah hari, sehingga produsen bisa mendapatkan makanan untuk hub kami nanti hari itu.

“Setelah kontrol kualitas dan pengepakan, hasilnya kemudian dikirim ke rumah pelanggan pada hari berikutnya.”

Bagi Meers, proses itu berarti ia tidak harus memasarkan produk, mengejar pembayaran, atau menghadapi tekanan tenggat waktu yang tidak masuk akal. Ini juga berarti keuntungan lebih tinggi.

“Kami dapat berkonsentrasi dengan lebih baik pada apa yang kami kerjakan, menaman dan menghasilkan makanan luar biasa yang benar-benar baru dipetik atau dibuat dan hanya dalam beberapa jam dapat melakukan pengiriman ke konsumen akhir,” katanya.

Tetapi konsumen akhir harus siap membayar harga untuk hasil pertanian yang segar dan dapat dilacak itu.

Farmdrop saat ini hanya tersedia di Greater London, Bristol dan Bath, dan harga produk yang ditawarkannya diperkirakan sekitar 5% lebih mahal daripada Ocado dan 10% lebih mahal daripada Sainsbury.

Namun, Pugh, yang merencanakan ekspansi lebih lanjut, berpendapat bahwa ini adalah model yang harus kita adopsi untuk membantu petani.

“Ini semua tentang menggunakan teknologi untuk mengembalikan sistem pangan kita ke asal-usul yang berkelanjutan.”

Brayn-Smith setuju dengan hal itu. “Saya pikir rantai pasokan akan sepenuhnya didigitalkan dalam 10 tahun,” katanya.

“Tapi untuk mencapai peningkatan pendapatan yang dibutuhkan untuk memastikan petani kakao, misalnya, memiliki masa depan yang layak, teknologi perlu melakukan lebih dari sekedar menghubungkan mereka ke pasar global.

“Teknologi juga harus membantu mereka meningkatkan produktivitas dan mendorong praktik yang berkelanjutan juga.”

Sumber: BBC.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here