Beranda Article Fintech Dan Kesiapan BPD Masuki Era Digital

Fintech Dan Kesiapan BPD Masuki Era Digital

Jakarta,Itech- Asosiasi Bank Pembangunan Daerah (Asbanda) menggelar Seminar Nasional dengan mengusung tema “Perkembangan Fintech dan Kesiapan BPD dalam Memasuki Era Digital Banking”. Melalui seminar ini, bank-bank daerah diharapkan bisa lebih cepat melakukan tansformasi bisnis dengan dukungan teknologi digital, termasuk mendorong ekosistem bagi perkembangan financial technology (fintech).

Asosiasi Bank Pembangunan Daerah (Asbanda) yang merupakan wadah bagi Bank Pembangunan Daerah seluruh Indonesia (BPD-SI) menggelar program Seminar Nasional dengan tema “Perkembangan Fintech dan Kesiapan BPD dalam Memasuki Era Digital Banking.” Seminar Nasional ini sebagai tindak lanjut dari komitmen BPD seluruh Indonesia dalam melakukan transformasi BPD yang telah diluncurkan 26 Mei 2015 oleh Presiden Republik Indonesia Bapak Joko Widodo di Istana Negara Jakarta.

Seminar yang berlangsung di Bandung (26/8) ini, menghadirkan Slamet Edy Purnomo, Deputy Komisioner Pengawas Perbankan IV OJK sebagai keynote speech. Selain itu hadir juga Kresno Sediarsi, Ketua Umum Asbanda yang juga Direktur Utama Bank DKI; Muhammad Arifin, Perwakilan Gubernur Jawa Barat; Ahmad Irfan, Direktur Utama Bank BJB; Pungky Wibowo, Direktur Group Pengembangan Sistem Pembayaran Retail dan Keuangan Inklusif BI; serta direksi dan komisaris BPD-Seluruh I.

Bertindak sebagai narasumber antara lain; Asisten Direktur Fintech Office Bank Indonesia,Yosamartha, Head of Marketplace Tokopedia, Aldo Tjahjadi, Direktur Utama Bank Sinar Mas, Freenyan Liwang, yang dipandu Pemimpin Redaksi InfoBank Eko B Supriyanto.

Ketua Umum Asbanda yang juga Direktur Utama Bank DKI, Kresno Sediarsi dalam kesempatan itu mengatakan, sejalan dengan perkembangan tenologi informasi saat ini, industri perbankan juga harus bisa mengukuti tren dari perkembangan TI dalam menunjang aktivitas usahanya. Begitu juga adanya tren baru hadirnya financial technology (fintech) di era digital yang juga makin berkembang belakang ini.

“Hadirnya Fintech ini sudah seharusnya menjadi wakeup call bagi BPD untuk kemudian bangun dan menangkapnya sebagai peluang. Trend jasa keuangan berbasis teknologi ini tentu tak bisa kita hindari, dan kita harus siap masuk kedalamnya,” ujar Kresno.

Menurutnya, BPD memiliki peran yang strategis dalam mendukung pertumbuhan perekonomian dan pembangunan di daerah, termasuk pengembangan fintech. Hal ini sejalan dengan tugas Pokok BPD yaitu mengembangkan perekonomian dan menggerakkan pembangunan daerah. Adapun fungsi BPD, yakni sebagai pendorong terciptanya tingkat pertumbuhan perekonomian dan pembangunan daerah dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat. Juga menjadi pemegang kas daerah dan atau sebagai pengelola keuangan daerah, dan sebagai salah satu sumber pendapatan asli bagi daerah.

Terkait fintech, saat ini sudah ada Surat Edaran dari Kementerian Dalam Negeri tentang Implementasi Transaksi Non Tunai Pada Pemerintah Daerah, baik Provinsi maupun Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. Bank Pembangunan Daerah yang dimiliki oleh Pemerintah Daerah, diharapkan dapat mendukung Pemerintah daerahnya masing-masing dalam implementasi transaksi non tunai ini. Di akhir seminar nasional ini, juga dilakukan prosesi secara simbolik penandatanganan MoU Implementasi Sistem Non Tunai Pengelolaan Keuangan pada Pemerintah daerah yang diinisiasi oleh Bank DKI.

Dari sisi kinerja, tercatat BPD-SI bisa terus membnukukan pertumbuhan usaha. Hal ini bisa dilihat dari kinerja keuangan maupun operasional semakin membaik. Hal ini dapat dilihat dari berbagai indikator yang berhasil dibukukan oleh BPD seluruh Indonesia. Per Juni 2017, aset BPD telah mencapai Rp 617.88 triliun atau meningkat sebesar 14,72% dibandingkan posisi Juni 2016 yang mencapai Rp 538.61 triliun atau menempati peringkat 5 dalam perbankan nasional setelah Mandiri, BRI, BCA dan BNI. Kekuatan aset BPD seluruh Indonesia ini menunjukkan bahwa apabila BPD seluruh Indonesia bersinergi akan menjadi potensi kekuatan yang solid dalam kancah persaingan industri perbankan nasional serta dapat memberikan kontribusi yang lebih optimal bagi perekonomian nasional, khususnya di daerah.

Sesuai dengan data Statistik Perbankan Indonesia, kinerja kredit BPD juga menunjukkan pertumbuhan yang cukup baik. Pada Juni 2017, posisi kredit BPD mencapai Rp 346,01 triliun atau meningkat sebesar 4,39% dibandingkan posisi Juni 2016 sebesar Rp 331.46 triliun. Sementara Posisi Dana Pihak Ketiga (DPK) BPD seluruh Indonesia pada Juni 2017 mencapai Rp 480.54 triliun, atau mengalami kenaikan sebesar 18,68% dibanding posisi Juni 2016 yang mencapai sebesar Rp 404.92 triliun. (Red-AC)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here